Saturday, May 29, 2021

Asyiknya Mendongeng

 


Semua mata tertuju di tengah ruangan, saat Guru SMAN 8 Yogyakarta, Slamet Nugroho bercerita tentang tikus yang cerdik, disusul Guru MTsN 3 Bantul Sutanto yang bercerita tentang pencuri bernama Degsura yang harus bertekuk lutut dihadapan mbah Jaya.

Keduanya tampil spontan mengawali praktik mendongeng, di bawah bimbingan narasumber seniman teater Broto Wijayanto,S.Sn, Jumat (28/5/2021) di auditorium 2 Museum Sonobudoyo Gondomanan Yogyakarta


Praktik mendongeng merupakan materi terakhir kegiatan Workhsop Cipta Dongeng yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, selama dua hari (27-28/5/2021) diikuti 30 peserta yang sebagian besar berprofesi pendidik.  Guru dari Sleman 10, Kota Yogyakarta  5, Gunungkidul 4, Bantul  4, Kulon Progo 3, peserta yang bukan guru 4.


Hari pertama, Kamis (27/5/2021) acara dibuka Kepala Parniradya Keistimewaan DIY  Aris Eko Nugroho,SP M.SI , dilanjutkan materi Pembinaan dan pengembangan Sastra Lisan di Masyarakat oleh Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Disbud DIY Rully Andriadi, S,S.  Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM Dr.Sri Ratna Saktimulya, M.Hum mengupas Dongeng Jawa Klasik dan Manuscrip Dongeng Yogyakarta.





Di hari kedua, Jumat(28/5/2021) menghadirkan penggiat sastra dan aksara Jawa sekaligus pimpinan Lembaga Kajian islam dan Sosial (LKIS) Akhmad Fikri, S.Hum yang secara gamblang menjelaskan Etnografi Sastra Lisan di DIY dan Penulisan Mendongeng. Di puncak acara Broto Wijayanto dengan pengalamannya di dunia akting mampu memotivasi semua peserta tampil dengan penuh percaya diri.

“Untuk bisa menguasai panggung, bisa diawali latihan berjalan, memandang mata orang lain. Yang penting kuasai dirimu agar bisa menguasai penonton, barulah bisa mendongen dengan nyaman. Mendongeng itu seperti menghipnotis,” tegas Broto.

Menurut Broto hal yang perlu diperhatikan adalah intonasi, karakter bermain kata, dan agar penampilan makin menarik ditambah adanya properti bisa menggunakan benda atau tubuh kita.

Dalam sesi penutup, Rully Andriadi mengingatkan, setelah workshop selesai, peserta diharapkan segera menyusun rencana yang matang agar semua dapat menghasilkan karya sampai dengan 30 Juni 2021 dengan mematuhi ketentuan yakni cerita tentang asal-usul nama tempatdi wilayah DIY, asal usul terjadinya sesuatu di wilayah DIY, segala sesuatu yang memiliki cerita lisan sekitar kita di wilayah DIY.

“Saya berharap hasil workshop dapat diimplementasikan dalam dongeng  yang dibuat  sehingga dapat menghasilkan karya yang berkualitas, bisa dibukukan dan dijadikan acuan mendongeng khususnya untuk anak maupun masyarakat umum,” tandas Rully.


Salahsatu peserta dari Kota Yogyakarta Arpeni Rahmawati mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut, karena menambah wawasannya selaku guru Bahasa Jawa. Sedangkan peserta dari Sleman Deti Prasetyaningrum banyak mendapat hal-hal baru terutama materi yang terkait Bahasa Jawa sedangkan dirinya adalah guru Bahasa Inggris.


No comments:

Post a Comment

Buku Solo ke-23 Segera Terbit

            Guru Seni Budaya MTsN 3 Bantul, Sutanto akan segera menerbitkan bukunya yang ke-23. Hal ini menarik perhatian  Bunda Literasi Ba...