Meski usianya tak lagi muda, namun semangat menulis Guru
MTsN 3 Bantul Drs.Sutanto tak kalah dengan yang muda. Setelah menulis puisi,
geguritan, cerita anak, true story, kali ini dia menulis kisah Mujiman, yang menghabiskan
Sebagian besar usianya menjadi Pembina Pramuka di berbagai sekolah dan
mengabdikan diri di masyarakat.
Di kediamannya Celep RT.07 Srigading
Sanden, Minggu (24/7/2022) Sutanto menjelaskan, melalui Komunitas Yuk Menulis
(KYM) pimpinan Vitriya Mardiyati, dirinya menulis buku solo ke-13 dan diberi judul
“Mujiman, Pejuang Pramuka
pejuang Masyarakat”
Menurut guru yang
gemar bermain catur ini, almarhum Mujiman hanya seorang warga masyarakat biasa
yang hidup bersahaja jauh dari gelimangnya harta, tak memiliki jabatan maupun
pangkat. Namun dedikasi dan komitmennya membina kader bangsa melalui Gerakan
Pramuka bisa menjadi contoh nyata.
Masa kecil Mujiman dilewati dengan
penuh keprihatinan, sekolah sambil bekerja menjajakan es lilin sudah dilakoni
sejak masih duduk di sekolah dasar. Dial mesti membantu orangtuanya bekerja di
sawah, dan juga menggembala kambing. Lewat tempaan hidup yang tak mudah, jiwa
kepemimpinannya sudah terlihat saat di SMP menjadi ketua kelas.
Mulai masuk Sekolah Pendidikan Guru
(SPG) Negeri Bantul, Mujiman mulai tertarik terjun di Pramuka. Masuk di Dewan
Kerja Cabang Bantul, membina di berbagai sekolah mulai tahun 1980 dan menjadi
Andalan Kwarcab Bantul sampai akhir hidupnya.
Melalui buku ini
juga diungkap bagaimana peran Mujiman sebagai pemrakarsa Bank Sampah Alam
Lestari di tempat tinggalnya, ikut aktif dalam memakmurkan Masjid Al Ikhlas
sebagai takmir, memimpin Kelompok Mina Usaha serta peran aktif di masyarakat
sebagai salahsatu orang yang sering dimintai petuah jika ada yang mengalami
masalah.
Ustad H. Thoyib Hidayat dari Bantul merasa bersyukur atas terbitnya buku yang mengupas perjuangan (almarhum) Kang Mujiman. Menurutnya, Mujiman adalah sosok yang tidak dapat terlupakan karena waktu SMP sudah piawai pidato, pernah menjadi ketua kelas saat SMP, jago main sepakbola dan juara lari halangrintang/ lari gawang tingkat kabupaten.
“Kang Mujiman
adalah pribadi yang selalu ceria karena jiwa pramukanya melekat sejak kecil.
Almarhum juga suka menolong, sayang kepada teman. Pada saat kemah di Patehan,
Gadingsari Sanden, dia membawakan ketela rebus untuk teman-teman satu baskom.
Sebagai teman karib, di Tahun 1980-an saya sering diajak ke Pantai Samas,”
kenang Thoyib.
Menurut Ustad
Thoyib, Mujiman memiliki jiwa gotongroyong, jiwa suka menolong, berjiwa
religius. Meski ilmu agama pas-pasan namun semangat agamanya sangat tinggi. Di
pendopo rumahnya, dia mengumpulkan anak-anak kecil sekitar 10-15 anak untuk
bersama melaksanakan salat jamaah dan mengaji. Saking sederhananya, saat itu anak-anak
meninggalkan sarung agar selalu selalu siap jika dipakai salat dipimpin
almarhum
Di mata Ketua Kwarcab Bantul Hj. Emi Masruroh, S.Pd, Mujiman adalah sosok yang sangat berjasa dalam menghidupkan Gerakan Pramuka di Kabupaten Bantul. Tidak banyak orang yang rela menyisihkan waktunya untuk mengabdi dengan kemahirannya berpramuka. Pengabdiannya ini jelas sangat memberikan manfaat luar biasa bagi generasi penerus bangsa dalam pembentukan karakter. Karena dari kegiatan Pramuka, para peserta didik belajar tentang kedisiplinan, gotong royong, empati, ketrampilan, dan banyak hal lainnya.
“Kak Mujiman juga termasuk orang yang
sangat konsen dalam mendukung program pengelolaan sampah di Bantul. Beliau
tidak mengenal lelah mensosialisasikan dan melatih warga agar mampu dan mau
mengelola sampah di lingkungannya masing-masing. Saya sebagai ketua kwarcab
Bantul merasa sangat kehilangan juga, namun Allah memberikan yang terbaik untuk
beliau. Selepas kepergian beliau, saya punya harapan besar akan munculnya Kak
Mujiman Kak Mujiman muda yang memiliki kemahiran seperti beliau, bahkan lebih.”
pungkas Emi.


