Untuk dapat konsisten menulis dibutuhkan ruang berkarya dan sahabat yang seirama. Itulah yang dilakukan Komunitas Yuk Menulis (KYM) pimpinan Vitriya Mardiyati yang memiliki 14 ribu anggota yang tersebar se antero Indonesia.
Selain menggandeng
tokoh nasional, berdonasi, komunitas ini juga menggandeng sponsor.
Dalam even menulis dengan tema “Pergi”
yang terbatas hanya untuk 50 penulis, KYM memberikan hadiah kipas angin.
Tak ketinggalan Guru
MTsN 3 Bantul, Sutanto mengikuti even spesial ini. Berbekal pengalamannya
menjadi angota KYM sejak Maret 2020, dirinya mencoba selalu update even yang diselenggarakan
komunitas tersebut. Sutanto membuat puisi “Masih Ada Rindu”.
“Puisi yang saya tulis tentang
kepergian saya dari tempat kerja lama ke tempat kerja baru. Bukan karena
permintaan namun hanya menjalankan perintah. Sebenarnya di tempat lama tak
sampai dua tahun. namun ada kesan mendalam dan rindu yang tak pernah sirna,”
ungkap Sutanto.
Siti Nurul Atiqoh , Guru Al Qur'an Hadits MA Al-Fatah komplek UIN
Raden Fatah Palembang membuat puisi berjudul Jejak Sepi. Siti mengaku ikut even
tersebut untuk mengembangkan kreativitas dan memupuk semangat untuk terus
belajar berliterasi
Guru SMPN 1 Kramat, Kab. Tegal, Indri
Febriana, M.Pd membuat puisi yang diberinya judul Jalan yang Terpilih. Puisinya
berisi isi hatinya akan jalan pergi yang ia pilih saat memilih untuk mutasi
tempat kerja. Bahwa begitu banyak pengalaman yg telah didapat. Dan kesedihan
penulis untuk meninggalkan tempat lama.
Indri
ikut even pergi karena ingin mencoba menulis kembali setelah vakum cukup lama.
Eti Kustiati, S. Pd., M.Pd menulis
puisi yang diberi judul Enyahlan. Guru SMKN 2 Godean Sleman ini mengaku, ikut
menulis karena bisa untuk mengungkapkan emosi jiwa yang meledak dengan
menggunakan kata halus dan kiasan. Serta membuat hati adem, nyaman dan lega
tanpa perlu dengan kata-kata kasar
Sementara itu, Hj Sri Suprapti, SPd,
mantan pendidik yang beralamat di Panggeran 9, RT 002 / RW 034, Triharjo,
Sleman, membuat puisi berjudul Senyum yang Pergi. Alasan ikut even pergi agar memberikan
motivasi kepada anak cucu bunda gemar menulis, menjadi pribadi yang berbakti
orang tua, Senyum yang pergi selalu
terkenang selamanya.
“Isi puisi saya tentang kerinduan
akan kasih sayang Ibu yang selalu menguatkan perjuangan untuk mendidik putra
putriku menjadi orang orang yang taat kepada orang tuanya. Senyuman Ibu menjadi
awal kebahagiaan meraih masa depan anak anakku.Walau Ibu sudah pergi dipanggil
Alloh namun senyumnya tetap kembali,” terangnya.
Guru yang beralamat di Cibeureum, Talaga, Majalengka, Jabar, Shinta Fauziah Romdhoni membuat puisi berjudul Jika Aku Pergi. Bercerita tentang kegelisahan serta ketakutan seseorang jika harus pergi terlebih dahulu meninggalkan keluarga dan dan alam semesta, meskipun dia yakin tanpa kehadirannyap pun semua akan baik baik saja. Shinta mengaku ikut even pergi untuk mengasah kemampuan literasi
Guru SMPN 2 Ngemplak, Harini Catur
Utami M.Pd membuat puisi berjudul
Jangan Harap Kembali, Bercerita tentang kepergian seseorang meninggalkan
lingkungan hidupnya karena sudah tak ada lagi kecocokan dalam berkata- kata.
“Saya ikuti even Pergi karen even
ini sangat bagus dan menantang kita untuk mengungkapkan memori kita tentang
berbagai peristiwa baik sedih maupun gembira,” ujarnya
Guru yang berdomisili di Keyongan Lor RT 01 Sabdodadi, Bantul, Rachma Erawanti Membuat puisi berjudul Dalam Kerinduan. Ujuannya ikut even untuk mencoba mengasah kemampuan menulis puisi.



