Kepala Dinas
Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul Nugroho Eko Setyanto,S.Sos,MM sangat
mengapresiasi Buku Kumpulan Geguritan “Gurit 53 karya Guru MTsN 3 Bantul, Drs.Sutanto.
“Saya sangat
mengapresiasi karya sastrawan jawa sekaligus Guru MTsN 3 Bantul, Pak Sutanto. Dalam
masa pendemi tetap bisa berkarya dengan semangat yang luarbiasa telah
menghasilkan karya berbahasa Jawa. Gurit 53 itu nanti akan dapat menjadi referensi
atau bacaan bagi kita bersama untuk tetap nguri-uri Kabudayan Jawi dan Sastra
Jawa di Bumi Projo Tamansari.”
Hal tersebut dikatakan Nugroho saat menerima buku Sutanto di ruang kerjanya, Kamis (15/9/2021). Nugroho mengharap agar karya tersebut dapat memberi semangat bagi generasi penerus untuk berkarya juga di dalam kesenian maupun Sastra jawa. Sehingga nanti pemajuan di Kabupaten Bantul ini akan menjadi semakin baik, budayanya semakin ngrembaka.
Selain Gurit 53 karyanya, Sutanto juga menyerahkan
Buku Antologi Macapat “Pageblug” terbitan Balai Bahasa Yogyakarta (BBY), karena
dirinya termasuk menjadi bagian dari buku yang memuat karya peserta lomba menulis
macapat guru SMP/MTs DIY akhir 2020.
Sutanto menambahkan,
kumpulan geguritan tersebut merupakan bukunya yang ke-8 semenjak bergabung dengan
Komunitas Yuk Menulis (KYM) pimpinan Vitriya Mardiyati. Dirinya menjadi
kecanduan untuk terus berkarya menyalurkan hobinya menulis.
Gurit 53 adalah kumpulan 123 geguritan (puisi
berbahasa Jawa) sebagai upaya turut melestarikan budaya Jawa khususnya sastra
tulis. Judul “Gurit Lima Telu” dipilih untuk pengingat usianya yang telah
memasuki usia 53 tahun di tahun 2021 ini.
Tujuh buku yang telah
ditulis mulai dari: buku pertama “Anggrek Vanda untuk Bunda” (kumpulan 10
cerita anak), buku kedua “Nada-nada Cinta (kumpulan 52 puisi), buku ketiga
“Pahlawan Ketapel” (kumpulan 15 cerita anak), buku keempat “Rangkaian Kata
Sarat Makna” berupa kumpulan 333 pantun, buku kelima “Burung Berhati Emas”
berupa buku kumpulan fabel, buku keenam “Untaian Kata Penuh Makna” (kumpulan
222 pantun), buku ketujuh “Pak RT Menjadi OTG” (True Story), memacunya untuk
terus berkarya.
Di buku yang kedelapan
ini, dia membuat berkreasi dengan membuat pola yang seragam, bait
pertama terdiri 5 baris dan bait kedua 3 baris. Untuk bahasa yang digunakan,
penulis memilih jawa ngoko maupun krama dengan harapan bisa
diterima kalangan muda maupun tua. Sutanto berupaya menangkap fenomena yang
terjadi di masyarakat tentang berbagai hal tidak dibatasi tema tertentu,
sehingga isi geguritan cukup bervariasi.
Dalam
buku ini ada misi untuk mengingatkan berbagai hal terkini kepada pembaca,
termasuk tentang adanya bahaya penyakit masyarakat (Memala, Ngabotohan),
menjaga prokes terkait Covid-19 (Banjir Luh, Durung Rampung, Mobal,Gawe
Gendra), tema pengingat kematian, menjaga lisan, dll.
Sutanto
berupaya menyampaikan nasehat dengan tidak terkesan menggurui, agar buku ini
dapat menambah referensi sastra jawa yang jumlahnya tidak sebanyak karya berbahasa
Indonesia.


