Friday, June 25, 2021

Emi Masruroh Sambut Baik, “Buku Pak RT Menjadi OTG”

 


Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul Hj. Emi Masruroh, S.Pd menyambut baik akan terbitnya buku kisah nyata “Pak RT menjadi OTG” karya guru MTsN 3 Bantul, Drs. Sutanto.

Membaca buku karya Sutanto tentang kisah hidup yang dialami selama terpapar Covid-19 mengingatkan saya dalam kisah yang sama. Menjadi orang yang terpapar virus ini tentu saja tidak pernah diinginkan oleh siapapun, sehingga upaya menjaga protokol kesehatan senantiasa selalu dilakukan. Walaupun begitu, ketika Allah menghendaki diri kita terpapar maka tidak dapat menghindar sedikit pun. Begitu pula yang jika tidak dikehendaki terpapar, sekalipun kontak erat dengan pasien Covid-19 maka tetap sehat seperti yang dialami oleh istri  Sutanto.

Hal itu dikatakan, Jumat siang (25/6/2021) di Rumah Dinas Bupati Bantul, Trirenggo Bantul.

Pemerintah Kabupaten Bantul telah berupaya dengan berbagai cara agar penyebaran virus tersebut tidak merajalela, akan tetapi keberhasilannya tergantung pada seberapa taat warganya memenuhi protokol kesehatan. Selain upaya antisipatif, bagi warga yang terpapar pun senantiasa diperlakukan dengan baik agar kembali menjadi sehat. Di antaranya dengan menyediakan beberapa shelter dan satu RS Lapangan Khusus Covid bagi warga yang terpapar, selain beberapa RS rujukan covid lainnya.

Ketika saya “menyambangi” beberapa shelter dan RSLKC tersebut, sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul sempat bertemu dengan Drs. Sutanto dalam keadaan sehat secara fisik di shelter Niten. Teman saya berangkat haji pada tahun 2018 ini rupanya menjadi pasien covid dengan status OTG. Beruntung seluruh elemen masyarakat, keluarga, dan petugas yang berada di sekitar tempat tinggal beliau termasuk kondusif, sehingga memberikan rasa nyaman kepadanya dan keluarga. Tidak sedikit orang yang terpapar covid justru dikucilkan oleh tetangganya, sehingga membuat suasana hatinya semakin “menciut” dan memperlama penyembuhannya.

“Kepada para pembaca, semoga kisah Drs. Sutanto ini dapat menginspirasi untuk selalu menjaga protokol kesehatan, dan “supported” kepada orang-orang di sekitar agar tercipta suasana yang menyenangkan sehingga menjadi salah satu faktor pendukung percepatan sembuhnya penderita covid. Sapalah para penderita walau dengan sapaan sederhana melalui media sosial, tetapi jangan mengintimidasi. Doakan agar lekas sembuh tanpa menggurui, karena psikis penderita covid rata-rata cukup sensitive,” pungkas Emi.


              Sutanto menambahkan sebagian orang enggan mengungkapkan kisahnya saat terpapar Covid-19, namun dirinya justru merasa terpanggil untuk berbagi kisah saat dinyatakan positif terpapar virus yang sudah menyebar ke berbagai belahan dunia.

“Saya hanya ingin menunjukkan kepada masyarakat luas, bahwa tidak semestinya orang yang terpapar Covid dijauhi apalagi dikucilkan. Namun hendaknya diperlakukan secara wajar dan manusiawi. Sesungguhnya virus ini bukanlah aib, sehingga tidak harus ditakuti secara berlebihan, namun tetap memperhatikan protokol Kesehatan,” tandasnya.


Buku dengan nomor ISBN 978-623-275-868-1 ini merupakan kisah nyata dari Sutanto  yang terpapar Covid-19 pada Maret 2021 lalu. Mulai awal diperiksa, dinyatakan positif, dan akhirnya masuk shelter. Lewat buku ini penulis ingin berbagi pengalaman saat bersosialisasi dengan sesama penderita covid, termasuk berbagai macam keadaan yang dialami penderita covid. Ada yang tak bisa membau, tidak bisa merasakan pahit, manis maupun asin, ada yang kakinya pegal-pegal, batuk pilek, namun ada pula orang tanpa gejala (OTG) yang tidak merasakan sakit selama dinyatakan positif.

 


Sunday, June 20, 2021

Kemenag Mendukung Literasi Menjadi Unggulan MTsN 3 Bantul

  


Kantor Kemenag Kabupaten Bantul mendukung literasi menjadi unggulan MTsN 3 Bantul. Hal tersebut sejalan dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang telah dicanangkan sejak 2016.

Hal tersebut dikatakan Kasi Dikmad Kankemenag Bantul, Jauhar Sulistiyanta, S.Ag saat “launching buku Berbicara Kepada Tumbuhan” di Madrasah Hijau yang beralamat di Manggung Wukirsari Imogiri, Sabtu (19/6/2021).

Gerakan Literasi Nasional merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antarunit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia.

“Gerakan ini akan dilaksanakan secara menyeluruh dan serentak, mulai dari ranah keluarga sampai ke sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting untuk memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing bangsa,” tandas Jauhar, 


            Kepala MTsN 3 Bantul, Sugeng Muhari S.Pd,Si menjelaskan, terbitnya buku “Berbicara Kepada Tumbuhan” karya 40 siswa yang berisi 50 puisi tersebut merupakan momentum yang tepat untuk menepatkan literasi sebagai program unggulan di madrasahnya.

Bahkan dirinya mendapat penghargaan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi Bidang Literasi.

“Literasi menjadi salahsatu unggulan madrasah, karena saya melihat banyak potensi siswa dan guru yang memiliki komitmen menulis. Disayangkan jika potensi yang ada tidak dioptimalkan,” imbuh Sugeng.


            Kepala Perpustakaan sekaligus pembimbing siswa, Siska Yuniati, S.Pd,M.Pd menambahkan terbitnya buku tersebut tak lepas dari keikutsertaan madrasah dalam Festival Literasi Bantul2021 kerjasama Disdikpora Bantul dan Gerakan Menulis Buku (GMB) Indonesia Januari lalu.

Selanjutnya madrasah mengumpulkan tulisan siswa berupa puisi dengan tema lingkungan hidup, sebagai upaya mendukung adiwiyata. Setelah terkumpul dilakukan editing dan dikumpulkan ke panitia.

Dari madrasah juga melakukan seleksi untuk menentukan karya 10 besar. Karya tersebut  dinilai oleh panitia untuk diambil sebagai juara 1-3 tingkat madrasah, yakni : Diyah Bening Nur Hidayati, Marta Anissa Daniswara, Alfita Wulandari

Di tingkat kabupaten, Diyah Bening dan Marta Annisa masuk 10 besar. Diyah Bening menjadi juara 3 Festival Literasi Bantul 2021 dengan puisinya yang berjudul Luhwati Terkembang,” terang Siska.

 

Friday, June 11, 2021

Karya Guru MTsN 3 Bantul Disambut Positif Pelaku Kuliner

 


Alhamdulillah buku saya disambut postif para pelaku kuliner di Kabupaten Bantul. Buku dengan judul Rangkaian Kata Sarat Makna yang berisi kumpulan 333 pantun tersebut diminati mereka.

Hal tersebut dikatakan guru MTsN 3 Bantul, Sutanto selaku penulis kepada Koran  Bernas, Jumat siang (11/6/2021).

Menurut Sutanto, buku yang dicetak sejak Januari 2021 tersebut merupakan buku solo yang ke-4 sejak bergabung dengan Komunitas Yuk Menulis pimpinan Vitria Mardiyati.

Guru Seni Budaya di Madrasah Hijau tersebut mengaku tidak memiliki orientasi apapun  dalam membuat buku itu, hanya sumbangsih untuk turut mengenalkan aneka destinasi wisata dan kuliner. Namun karena latarbelakang tempat  yang dia tulis banyak memiliki hubungan emosional sehingga mereka tertarik untuk memiliki.


Pemilik Sate Kambing Ponakir, Marmi yang beralamat di Celep Srigading Sanden sangat senang dengan terbitnya buku tersebut. Dia sangat gembira bahwa warungnya dapat masuk di antara pantun yang ada.

“Pokoknya senang rasanya, meski sudah banyak yang tahu warung saya, namun dengan masuk di buku ini orang-orang yang jauh lokasinya bisa tahu keberadaan warung saya. Tentu nanti makin banyak orang yang akan datang ke sini,” ungkapnya Bahagia.

Pemilik Soto Ana di Bambanglipuro Mujiyama bangga bisa memiliki buku tersebut. Warungnya yang sudah dikunjungi para penikmat kuliner soto, bakso, gado-gado, kedepannya akan lebih banyak lagi yang datang.


Sementara Owner Warung Bakmi Mbah Mardi yang berada di di bakulan Patalan Jetis juga antusias memiliki buku ini.

Kebetulan dirinya memiliki hobi yang sama dengan Sutanto  yaitu catur. Karena sudah punya hubungan yang akrab maka dia pun tak ragu-ragu memiliki buku tersebut. Warung yang menjadi langganan para pegawai karena buka sejak pagi, memang selalu ramai dengan pengunjung baik yang ingin menikmati aneka masakan jawa, namun ada yang sekedar nongkrong bermain catur.

Selaku pimpinan KYM, Vitriya Mardiyati merasa salut dengan apa yang ditulis Sutanto “Mungkin buku yang ditulis Pak Sutanto berupa kumpulan pantun dengan latar belakang kuliner dan wisata tidak banyak ditulis orang. Jadi ini termasuk karya, tidak heran kalau banyak yang minat,” jelasnya.

Kepala MTsN 3 Bantul, Sugeng Muhari S.Pd,Si merasa bangga terhadap apa yang telah ditulis guru di madrasahnya.

“Sebagai Kepala Madrasah saya sangat bangga dan memberikan apresiasi kepada Pak Sutanto yang telah menulis buku kumpulan pantun ini. Saya berharap apa yang dia lakukan dapat memberi motivasi kepada teman-teman guru lain untuk terus berkarya dan membawa nama baik madrasah.


Selain pelaku kuliner, buku Sutanto juga mendapat apresiasi dari Kasi ODTW Diparda Kabupaten Kulon Progo, Drah Saraswati, ST dan guru senior SMAN ImogiriAni Budiati, S.Pd


Sunday, June 6, 2021

Kakan Kemenag Mewisuda Siswa MTsN 3 Bantul

 


Jangan puas hanya memiliki ijazah MTs, hendaklah tetap bisa melanjutkan Pendidikan sampai perguruan tinggi. Ilmu agama yang didapat selama 3 tahun harus terus didalami melalui pondok pesantren maupun lembaga yang lain agar ilmu agama tetap kokoh tertancap di dada. Persaingan saat ini makin ketat, tak cukup mengandalkan Intelligence Quoitient (IQ) semata, namun yang lebih penting adalah Emotional Spiritual Quotient (ESQ).

Hal itu dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul H. Aidi Johansyah, S.Ag, MM saat memberikan sambutan dalam acara wisuda purna siswa kelas 9 MTsN 3 Bantul, Sabtu (5/6/2021).

Lebih lanjut Aidi Johansyah  mengingatkan perintah Allah Swt, agar siswa tak berhenti menuntut ilmu dan tak lupa dibarengi karakter.

“Penanaman karakter penting dilakukan sejak dini. Hormati orangtua, guru dan baik kepada sesama. Insyaallah kesuksesan akan teraih,” pesan Kakan Kemenag.


Wisuda purna siswa dihadiri Ketua Komite H. Turmudzi, Kepala Madrasah Sugeng Muhari, S.Pd.Si, Kepala TU Siti Chairul Hidayah, S.Pd.I, pendidik, tenaga kependidikan, 10 siswa terbaik didampingi orangtua. Dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Dengan dipandu Siska Yuniati, S.Pd, M.Pd, acara diawali pembacaan ayat suci Alqur`an oleh Widiastuti, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dipandu Drs.Sutanto (pengiring) dan Zhana Arum P, S.Pd (dirigen), ditutup doa oleh ketua komite.


            Selaku Kepala Madrasah, Sugeng Muhari melaporkan bahwa siswa kelas 9 yang berjumlah 132, semua dinyatakan lulus. Itu semua tak lepas dari usaha keras siswa, difasilitasi orangtua dan disuport oleh komite madrasah. Kepada orangtua, Sugeng memberikan 3 pesan yaitu menjaga anak sebagai Amanah, memfasilitasi pendidikan sampai tingkat tertinggi, tetap mendoakan yanhg terbaik. Sedangkan 3 pesan untuk siswa yaitu tetap tekun beribadah dan belajar, agar melanjutkan pendidikan, menghargai/menghormati orangtua dan guru, agar hidupnya berkah.

Wakamad Urusan Kurikulum Puji Lestari, S.Pd mengatakan, setelah upacara seremonial selesai, dilanjutkan pelaksanaan wisuda untuk siswa lainnya dengan waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan urut dari 9A,9B,9C,9D dan tertakhir 9E.


Adapun 10 terbaik wisudawan/wisudawati : Infida Mahari Putri (9A), Amelia Nazari (9B), Sofi Ramadhani (9C), Elsa Silviana Putri (9B), Retno Dwi Anggara (9C), Mayasari (9B), Ransa Putri Aryani (9A), Muhammad Anas Mufid (9A), Sartida (9C) dan  Ervina Septiani Putri (9A).

 


Buku Solo ke-23 Segera Terbit

            Guru Seni Budaya MTsN 3 Bantul, Sutanto akan segera menerbitkan bukunya yang ke-23. Hal ini menarik perhatian  Bunda Literasi Ba...