Tuesday, March 10, 2020

Guru MTsN 5 Bantul Yang Hobi Pramuka, Catur, Musik, dan Jurnalis


Saat menerima SK sebagai Guru di MTsN 5 Bantul (yang saat itu masih bernama MTsN Pundong) 1 Oktober 1994, Sutanto sempat tak percaya, pasalnya sejak awal dirinya wiyata bhakti menjadi guru di MAN Gandekan Bantul, SMA Berbudi Yogyakarta dan SMA Tri Praja Bhakti Bambanglipuro yang semuanya setingkat SMA. Waktu itu Kepala MAN Gandekan meminta Sutanto  agar mengajar di MAN Gandekan saja, namun rupanya pihak MTsN tidak mengabulkan. Akhirnya Sutanto menjalankan tugas di Pundong yang berjarak 6,5 km dari rumahnya di Celep  RT 07 Srigading Sanden Bantul.
Merasakan Manfaat Pramuka
Saat mulai bekerja di Pundong usianya baru 26 tahun, masih penuh semangat, pengalaman sebagai aktivis Pramuka memberikan banyak manfaat dalam melaksanakan pengabdiannya sebagai Guru sekaligus diserahi sebagai Pembina Pramuka. Tidak mengherankan, karena Sutanto mulai mengenal Pramuka semenjak tahun 1981 saat masih duduk di bangku SMP Bambanglipuro, karena kakaknya langsung sebagai Pembina Pramuka. Pendidikan Pramukanya semakin matang saat Sutanto melanjutkan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Bantul 1984. Di sekolah ini dirinya menempuh jenjang Penegak Bantara, dan mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) sebagai bekal membina. Sejak 1985 Sutanto muda membina Pramuka Penggalang di jenjang SD maupun SMP. Berawal dari seringnya mengikuti kegiatan Pramuka di tingkat Kwarcab Bantul, Sutanto direkrut menjadi anggota Dewan Kerja Cabang (DKC) Kwarcab Bantul periode 1984-1987, Periode 1987-1990 sebagai Bendahara dan Periode 1990-1992 sebagai Ketua. Di tahun 1987 Sutanto mendapat kesempatan menjadi duta Kwarda XII DIY sebagai peserta Perkemahan Besar Tingkat Penegak Pandega yaitu Raimuna Nasional di Cibubur Jakarta Timur selama 15 hari. Untuk bisa mengikuti kegiatan ini harus melewati seleksi Raimuna Cabang di tingkat Kabupaten, Raimuna Daerah di tingkat DIY. Di even Nasional ini banyak memberikan pengalaman berjumpa dengan Pramuka dari Sabang sampai Merauke. Selanjutnya Sutanto berkiprah sebagai Andalan Kwaran Pundong 2003-2006 dan 2017-2021, Andalan Kwarcab Bantul 1993-1996, 2000-2005, 2005-2010 dan 2015-2020, Pelatih Kwarcab Bantul sejak 2015. Untuk meningkatkan kemampuan pada tahun 1991 Sutanto mengikuti Kursus Pembina tingkat Mahir Lanjut (KML) jurusan Penggalang di Buper Babarsari Sleman, pada tahun 2014 mengikuti Kursus Pelatih Dasar (KPD) Tingkat Nasional di Balong Bendo Sidoarjo Jawa Timur.

Catur, Hobi yang Membawa Hoki
Sejak usia 5 tahun Sutanto yang masih TK mulai dikenalkan olahraga otak oleh “sang ayah” Dwidjo Sumarto, seorang guru SD yang hobi main catur. Setelah diajari dasar-dasar , Sutanto kecil ditandingkan dengan orang dewasa. Dari cara tersebut Sutanto  mulai terbiasa bertanding.  Mulai kelas 1 SD (1975) sampai kelas 5 (1979) Sutanto menjadi wakil Bantul di tingkat DIY dalam Pekan aneka Kegiatan dan Ketrampilan Murid (PAKKM). Namun sayang kegemarannya bermain catur sempat terhenti sampai tahun 1987.

Barulah ketika masuk bangku kuliah di Program Studi Seni Musik IKIP Yogyakarta, Sutanto mulai bermain catur lagi, hal ini disebabkan di tingkat Fakultas ada pertandingan catur antar jurusan. Sambil kuliah kerapkali Sutanto membawa 1 set papan catur, dosen Seni Musik,Seni Rupa banyak yang penasaran menjajal kemampuannya. Sehingga di Kampus Sutanto lebih dikenal oleh dosen bukan karena piawai memainkan alat musik namun karena kemampuannya dalam bidang catur. Ketua Program Studi Seni Musik yang orang Batak kebetulan juga hobi catur, sampai hapal dengan dirinya.
Mulai tahun 1989 Sutanto mulai aktif mengikuti turnamen di Kabupaten Bantul. Debutnya mulai diperhitungkan, tahun 1991 berhasil menjadi Juara I Turnamen Catur Bupati Bantul Cup, Juara I Catur Bantul Cup tahun 2000, Juara I Catur HAB Kemenag tahun 1996, 2000, 2001,2002, 2006, Juara I Catur dalam rangka Dies Natalis UNY tahun 2003, Juara III Catur Porda 2007,  Juara I Catur Cepat Porprida DIY 2014, Juara I Beregu Klasik Porprida DIY 2014, Juara II Seleksi Porda Kabupaten Bantul 2014, , Juara III Catur Porda 2015, Juara III Catur Porda 2017, Juara I Catur Kilat HUT Korpri 46 Tahun 2017 se Bantul, Juara I Catur Cepat HUT Korpri 46 Tahun 2017 se Bantul, Juara I Catur Standar HUT Korpri 46 Tahun 2017 se Bantul
Catur telah membawa Sutanto merasakan Gratis Naik Pesawat Terbang saat menjadi Tim Catur DIY dalam rangka Porseni PGRI Tingkat Nasional di Samarinda tahun 2012, selang setahun kemudian mewakili DIY  menjadi Tim Catur Por Korpri Tingkat Nasional di Manado 2013, dan tahun 2017  menjadi Tim Catur DIY pada Por Korpri Tingkat Nasional di Yogyakarta.
Musik, Hobi yang mengantarnya Masuk Kemenag
Dari Sumartono kakaknya, Sutanto mulai suka menyanyi dan bermain Gitar kelas 5 SD. Grup Nasyid yang menjadi acara pengajian dalam berbagai peringatan Hari Besar Agama Islam menjadi ajang latihannya bermusik. Saat masuk SMPN Bambanglipuro Sutanto semakin matang bermain gitar bersama komunitas teman sekolahnya dan menjadi pengisi acara berbagai kegiatan di sekolahnya, bahkan Sutanto sudah berhasil menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Bapak Nugroho”, lagu yang berisikan pujian kepada Mendikbud Nugroho Noto Susanto. Mengikuti jejak kakaknya Sutanto masuk SPGN Bantul dan mendapatkan komunitas musik meski masih berkutat sebagai pengisi acara sekolah. Musik menjadi pilihannya ketika lulus SPG tahun 1987, Sutanto mencoba peruntungan mendaftar IKIP Yogyakarta program studi Seni Musik. Selain ujian tulis sebagaimana calon mahasiswa lainnya, ada tes menulis notasi musik dan bermain salahsatu alat musik. Dengan berbekal Gitarnya yang mungkin belum standar kualitasnya, membawa Sutanto diterima masuk menjadi Mahasiswa Program Studi Seni Musik. Dibanding teman-temannya Sutanto tidak begitu menonjol musikalitasnya, namun dia dapat menyelesaikan kuliah dalam waktu 4,5 tahun dan lulus pertamakali pada Mei 1992. Semenjak tahun pertama kuliah, Sutanto sudah menjadi guru honorer di SMA Dwijaya Karen sambil membina Pramuka di berbagai sekolah, tahun 1991 Sutanto menjadi guru honorer di 3 sekolah, Senin-Selasa di MAN Gandekan Bantul, Rabu-Kamis di SMA Berbudi Yogyakarta dan Jum`at-Sabtu di SMA Tri Praja Bhakti Bambanglipuro.
Ketika mengajar di MAN Gandekan itulah Sutanto mulai tahu tentang penerimaan pegawai/guru di lingkungan Kemenag yang waktu itu masih bernama Depag. Sayangnya pada Agustus 1992 informasi penerimaan sudah terlambat diketahuinya sehingga otomatis belum bisa mendaftar. Agar tak terlambat mendapat informasi bekerjasama dengan rekannya Sutanto mulai memantau penerimaan CPNS Kemenag mulai awal 1993. Penantiannya tak sia-sia karena, Agustus 1993 dibuka pendafataran CPNS baik ijazah SMA/MA maupun sarjana. Herannya untuk kualifikasi Sarjana tidak menyebut jurusan yang dibutuhkan, dan Sutanto mendaftar. Setelah melewati beberapa tahap mulai seleksi tertulis, lesan, psikotes akhirnya Sutanto dinyatakan diterima, namun untuk SK penempatan harus menunggu sekitar satu tahun, yaitu per 1 Oktober 1994.
Guru yang Jurnalis
Di sela-sela kesibukannya mengajar Sutanto memiliki hobi menulis. Yang menjadikan Sutanto termotivasi bersentuhan dengan dunia jurnalistik, berawal dari datangnya seorang wartawan yang menemuinya pada tahun 1990. Saat itu Sutanto masih kuliah  di IKIP Yogyakarta dan aktif menjadi pengurus Pramuka di Dewan Kerja Cabang (DKC) Kabupaten Bantul. Wartawan tersebut mewawancarai Sutanto tentang data diri, organisasi dan kuliah. Beberapa hari kemudian profilnya muncul di koran dan banyak mendapat respon dari beberapa teman. Bahkan ada seorang dara aktivis pramuka dari luar Kabupaten Bantul yang menemui Sutanto hanya untuk berkenalan, gara-gara profilnya dimuat di koran.  Ternyata sungguh dahsyat pengaruh media cetak. Dari sinilah terpompa semangat  untuk mencoba menulis sendiri dan bukan hanya diwawancarai saja.
Sejak  tahun 1985 saaat masih duduk di bangku Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sutanto menjadi redaktur majalah sekolah “Media Siswa”. Majalah bulanan yang hanya dikonsumsi secara intern tersebut selalu ditunggu kehadirannya oleh warga sekolah. Sebagai redaktur yang sekaligus ikut mengisi rubrik seperti puisi, cerita dan artikel lain selalu tertantang untuk menyajikan sesuatu yang menarik. Saat sekolah di SPG itulah secara iseng-iseng Sutanto menulis pantun dan dimuat di koran Minggu Pagi dalam rubrik “Pantun Ngeyel” dan mendapat honor. Perasaan bahagia tak terhingga karena pantun yang Sutanto buat bisa dimuat dan dibaca banyak orang serta masih mendapat honor.
Menulis berita baru Sutanto mulai sekitar tahun 2007 ketika sudah bertugas menjadi guru di MTsN Pundong Bantul. Awalnya saat madrasah mengadakan kegiatan lomba fashion busana muslim/muslimah antar SD/MI se Bantul menjelang penerimaan siswa baru, kegiatan tersebut dimuat di Kedaulatan Rakyat. Penasaran juga rasanya kok bisa dimuat, Sutanto mencoba menelusuri, ternyata ada salahsatu orangtua/wali peserta lomba yang mengirimkan berita lewat seorang wartawan. Dari orangtua/wali tersebut Sutanto meminta nomor HP wartawan yang memuat berita itu, menanyakan bagaimana cara mengirim berita. Berbekal keterangan wartawan itu Sutanto membuat berita madrasah dan dikirim melalui email. Alhamdulillah beberapa kegiatan madrasah bisa di ekspos melalui Koran tertua di Yogyakarta ini.
Menulis berita di koran secara intensif baru dimulai Sutanto sekitar tahun 2011, karena di tahun 2007 baru dimuat 1 kali, tahun 2009 dimuat 7 kali, tahun 2010 dimuat 2 kali, di tahun 2011 sudah meningkat dimuat 21 kali, tahun 2012 dimuat 33 kali, tahun 2013 dimuat 24 kali. Sutanto masih belum puas untuk menulis dan terus menulis berita di koran. Untuk tahun 2014 dan 2015 secara berturut-turut, kumpulan kliping berita yang memuat kegiatan “Kampus Hijau” MTsN Pundong mendapat apresiasi dari Kanwil Kemenag DIY dan mendapatkan penghargaan“Media Award” karena menjadi madrasah yang terbanyak dimuat di koran. Untuk tahun 2014 ada 49 berita dan tahun 2015 ada 56 berita. Sutanto terus berusaha meningkatkan pemuatan berita di koran, maka di tahun 2016 dapat dimuat 68 berita, namun sayang  program media award tidak berlanjut lagi.
Meskipun tak ada penghargaan, namun kesenangan menulis dan mengkliping berita tetap dilakukan sampai sekarang, dan untuk tahun 2017 telah terkumpul 54 berita yang dimuat di koran. Pemuatan berita-berita madrasah yang Sutanto lakukan bukan semata-mata mengejar penghargaan, namun yang lebih penting adalah mengukuhkan eksistensi madrasah di tengah masyarakat agar madrasah makin dikenal dan disukai. Menulis berita di koran harus mempertimbangkan segmen masyarakat yang membaca, artinya koran apa yang banyak dibaca perlu menjadi salahsatu pertimbangan. Sebelum tahun 2011 Sutanto hanya menulis berita untuk koran lokal seperti Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Harian Jogja. Ketika bulan April 2011 mulai muncul harian baru “Tribun Jogja” mengusik jiwa Sutanto untuk mencoba menembus Koran Gramedia Grup tersebut. Setelah Sutanto cermati kapling beritanya, pilihan Sutanto jatuh pada “citizen journalism” yang memberikan ruang khusus bagi pembaca untuk menuangkan ide ataupun menyampaikan laporan kegiatan.
Tulisan Sutanto yang dimuat pertama kali pada Senin Pon 30 Mei 2011 (Tribun edisi 51/ tahun I) dengan judul “ Pelatihan MGMPSBK Bantul”, tulisan kedua dimuat pada Rabu Kliwon, 6 Juli 2011 dan tulisan ketiga dimuat Rabu Wage 28 September 2011. Untuk tahun 2012 lebih giat menulis citizen journalism dan bisa dimuat sebanyak 8 kali. Tahun 2013 dimuat 1 kali, tahun 2014 dan tahun 2015 dimuat 2 kali, tahun 2016 semangat lagi dan dapat dimuat 7 kali. Sedangkan untuk tahun 2017 sampai bulan April dimuat 3 kali. Rubrik ini ternyata banyak peminatnya, mulai dari guru, karyawan, dosen, pengurus organisasi dan profesi lainnya, karena memang terbukti efektif untuk menyebarluaskan informasi kegiatan.
Mulai Desember 2016 di Tribun Jogja muncul rubrik baru dengan nama Komunikarta. Pada awalnya Sutanto tidak melirik rubrik ini, dianggapnya rubrik ini hanya mewartakan kegiatan dusun/ desa saja. Namun lama-lama ada rasa penasaran ingin mencoba menulis di rubrik ini. Kelebihan Komunikarta dibanding citizen journalism adalah adanya foto berwarna yang menyertai berita yang dimuat. Tulisan Sutanto yang pertama dimuat tentang kegiatan madrasah  berjudul “Sri Umayati Jadi Pembina Upacara di Kampus Hijau” yang dimuat pada Kamis, 2 Februari 2017, disusul berita lainnya. Sampai dengan April 2017  tulisannya yang bisa dimuat di Komunikarta Tribun Jogja sebanyak 9 kali meliputi : Berita MTsN 5 Bantul 3 kali, kegiatan masyarakat 2 kali, kegiatan MGMP Seni Budaya 4 kali, kegiatan olahraga catur 1 kali. Di rubrik ini kepuasan sebagai penulis lebih terasa karena di pojok kanan bawah tulisan  dicantumkan nama dirinya selaku penulis.
Hobi menulis yang ditekuni Sutanto ternyata mendapat perhatian dari Kanwil Kemenag DIY, bersama dengan beberapa guru dari madrasah lain se DIY diundang dari Kanwil dan dijadikan kontributor resmi yogyakarta.kemenag.go.id . Mulai 16 Mei 2016 Sutanto diberikan kewenangan untuk “tulis sendiri upload sendiri” berita (sebelumnya kalo mengirim berita harus melalui email Humas Kanwil Kemenag DIY). Setelah berkecimpung dalam dunia jurnalistik, Sutanto sadar bahwa dengan menulis berita dan artikel ternyata membuat hati menjadi bahagia. Setiap selesai menulis berita untuk koran, maka hari-hari berikutnya adalah menanti dengan perasaan berdebar, apakah berita yang dikirim bisa dimuat atau tidak. Setelah dimuat ada perasan lega dan rasa puas, barulah kemudian Sutanto kumpulkan menjadi kliping dan di akhir tahun dijilid. Dari kliping berita tersebut dapat digunakan sebagai sumber informasi, misalnya untuk mencari nama pejabat mulai dari Kanwil Kemenag DIY, Kemenag Bantul, Bupati, Camat, dll yang semuanya terekam di kliping, termasuk misalnya untuk mengingat kegiatan yang pernah dilaksanakan di madrasah apabila lupa waktu dan tempatnya akan dapat terjawab dari kliping.
Selain mempublikasikan madrasah sendiri, Sutanto juga mewartakan kegiatan lain seperti : Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya dan Prakarya MTs Kemenag DIY (sebagai ketua), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya dan Prakarya MTs Kemenag Kabupaten Bantul (sebagai wakil ketua), olah raga catur (sebagai Sekretaris Umum Pengkab Percasi Bantul), juga kegiatan di masyarakat di dusun maupun desanya. Sambil berolahraga sekaligus rekreasi bersama keluarga, Sutanto juga menyempatkan menulis tempat-tempat yang dikunjungi. Beberapa yang dimuat di media cetak diantaranya “Coba Sensasi Selfie di Atas Bukit Berlatar Pantai Depok” (Tribun Jogja, 16 Juni 2017), Pecinta Pantai dan Kuliner Wajib ke Pesona Pengklin ( Tribun Jogja, 18 Juli 2017), Spot Bunga Matahari Muncul Lagi (Harian Bernas, 22 Desember 2017).
Mulai tahun 2018, seiring perkembangan teknologi, maka sedikit demi sedikit koran cetak mulai berkurang peminatnya dan berkalih ke media online Sutanto melakukan terobosan dengan mengirim berita secara online, beberapa kirimannya telah dimuat di krjogja.com, harianjogja.com, solopos.com, jatengpos.com, kumparancom. Kelebihan media online langsung bisa dibaca secara Nasional dan bisa difoward ke media sosial seperti instagram, facebook, twiter, WhatsApp secara langsung.
           
Raih Berbagai Penghargaan
Selama 24 tahun bertugas sebagai guru, Sutanto bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya, apabila mampu tugas yang diberikan kepadanya akan dilaksanakan. Termasuk ketika didaulat harus mengikuti berbagai lomba Sutanto tak menolaknya. Pada tahun 2004 dia berhasil menjadi Juara I Guru Teladan MTs  Kemenag DIY.  Di tahun 2004 pula Sutanto lolos Seleksi Calon Kepala Madrasah dan mendapatkan Sertifikat Calon Kepala Madrasah 2005. Namun hal itu tidak secara otomatis membuatnya diberi amanah sebagai Kepala Madrasah. Pada November 20015 Sutanto mendapatkan Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya XX tahun yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Tahun 2008 saat ada sertifikasi Sutanto lulus Sertifikasi melalui program Porto Folio dengan nilai lebih dari seribu, tak usah melalui PLPG. Pada tahun 2017 Sutanto didaulat mewakili madrasahnya mengikuti lomba ASN Berbudaya Kerja dan berhasil meraih Juara I. Dampak dari keberhasilannya sebagai Juara ASN ternyata luarbiasa, setelah dimuat di media online, salahsatu stasiun televisi tertarik membuat profilnya. Dalam waktu sekitar 3 jam proses rekaman berhasil dibuat 3 angle berita ; Guru Berprestasi, Guru Kreatif, dan Lagu Vulgar
Yang ditayangkan Anteve dalam acara “Panorama D.I.Yogyakarta” secara berulang-ulang.
Ketertarikan pihak stasiun Televisi tersebut diantaranya Sutanto telah berhasil mencipta lagu dan telah direkam di studio Radio Vedac PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta yaitu Dengan Bismillah, Mari Berkaca, Setulus Hati, Salahkah Aku, Fatamorgana, Ajal Menjelang, Maafkan, Kampus Hijau, Ikrar Hati, Segala Karunia, Dilanda Bencana, Mampu, Semesta, Terus Maju. Lagu-lagu yang diciptakannya tersebut bertemakan religi, alam, promosi madrasah. Selain itu Sutanto sering dimintai tolong untuk mencipta lagu untuk sekolah/organisasi sosial seperti Mars TK Pembina Bonggalan, Mars PKBM Mandiri Karen, Mars Jambore Daerah DIY. Sedangkan beberapa buah lagu belum direkam seperti Bagai Mimpi Saja, Buah Hati 1, Buah Hati2, Buah Hati 3, Mars Matsamaba.
Kesibukan di luar Mengajar
            `Disela-sela kesibukannya mengajar, Sutanto aktif menjadi Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) MTs Seni Budaya dan Keterampilan Kemenag D.I.Yogyakarta mulai Januari 2012. Sejarah terbentuknya MGMP Seni Budaya & Prakarya MTs Kemenag DIY yang pada awal berdirinya bernama MGMP Seni Budaya & Ketrampilan  MTs Kemenag DIY tak bisa dilepaskan dari keberadaan MGMP Seni Budaya dan Keterampilan MTs Kemenag Kabupaten Bantul yang sudah mulai aktif mulai bulan Agustus 2010. Anggota MGMP ini terdiri dari berbagai latarbelakang Kesenian (Musik, Tari, Rupa) maupun keterampilan (kriya, boga, busana). Selama kurun waktu Agustus 2010 sampai dengan Mei 2011 telah mengadakan berbagai macam kegiatan seperti : pelatihan membatik dengan media kain di Wonokromo, pelatihan gerabah di “Jumiran Keramik” Kasongan, praktek anyam bambu di Dlingo, pelatihan lagu Nasional dan pelatihan batik kayu. Pada Tahun Pelajaran 2011/2012 tepatnya Oktober 2011 mulai kegiatan dengan menggelar diklat penyusunan silabus & RPP, pelatihan angklung, pelatihan kaligrafi, lesson study, pelatihan batik, dan pelatihan band.
Bertempat di MTsN Piyungan Bantul, pada tanggal 12 Januari 2012 MGMP Seni Budaya dan Keterampilan MTs Kemenag DIY Masa Bhakti 2012-2014 secara resmi terbentuk melalui musyawarah mufakat dan Sutanto dipercaya sebagai Ketua. Bersama dengan pengurus telah berhasil membuat kegiatan yang menunjang pengembangan kompetensi. Dari MGMP inilah Sutanto menjalin kerjasama dengan Kemenag DIY untuk membuat Surat Keputusan Kepengurusan sebagai paying hokum. Sutanto juga menjalin kerjasama dengan Drs. Edih Supardi, M.Pd (widyaiswara PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta) dan Ketua Asosiasi Pengembang Teknologi Pembelajaran Indonesia (APTPI) wilayah DIY- Jateng , Akhir Lusono, S.Sn, MM yang juga Direktur Radio Vedac PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta. Dari kedua orang inilah Sutanto bersama bisa menggelar berbagai kegiatan seperti Seminar, FGD, Workshop, Diklat dan sebagainya dengan berbagai kemudahan bagi dari segi fasilitas, pendanaan dan pencarian narasumber. Beberapa kegiatan Sutanto turut menjadi narasumber, diantaranya:  Seminar Pendidikan Seni Budaya di Era Digital 2014, Training on The Job Pemanfaatan TIK  tingkat DIY.  
Dalam olahraga catur Sutanto tak hanya aktif sebagai atlet, namun semenjak 1990 menggawangi lahirnya Klub Catur Kuda Kencana di Srigading Sanden, sedangkan di tingkat Kabupaten diberi amanah sebagai Sekretaris Umum Pengkab Percasi Bantul periode 2000-2004, 2004-2008, 2008-2012, 2012-2016, 2017-2021. Sebagai Sekretaris Umum tentu saja merupakan motor penggerak organisasi, melewati pergantian Ketua Umum dalam beberapa periode yang umumnya dipegang pejabat Pemkab Bantul, dirinya sekaligus belajar menghadapai berbagai karakter. Berbagai kegiatan rutin pembuatan RAB, pelaksanaan aneka kegiatan sampai dengan LPJ tak pelak pula menyita sebagian waktunya, namun karena sudah didasari rasa suka maka dilakoninya dengan enjoy.
Dalam suatu pertandingan catur mutlak membutuhkan eorang wasit yang bertugas memimpin pertandingan, dikarenakan masih minimnya wasit catur di DIY, Sutanto dikirim mengikuti kursus wasit catur di Pusdiklat Kemdikbud Jakarta tahun 2016 dan berhasil memperoleh gelar Wasit Nasional Pratama. Otomatis dengan gelar baru yang disandangnya tersebut Sutanto acapkali ditugasi menjadi pemimpin pertandingan teruatama kejuaraan catur yang digelar di tingkat Kabupaten Bantul.
Sedangkan di masyarakat, Sutanto turut berkiprah pula sebagai Takmir Masjid di dusunnya sejak 1996 hingga sekarang juga sebagai khotib. Ketua RT 07 Srigading Sanden Bantul juga disandangnya sejak tahun 2003, Dewan Sekolah SD Bonggalan Srigading Sanden Bantul, sejak 2003 hingga sekarang dan yang terakhir diminta pihak Desa Srigading Sanden menjadi Sekretaris LPMD.



No comments:

Post a Comment

Buku Solo ke-23 Segera Terbit

            Guru Seni Budaya MTsN 3 Bantul, Sutanto akan segera menerbitkan bukunya yang ke-23. Hal ini menarik perhatian  Bunda Literasi Ba...