Saat
menerima SK sebagai Guru di MTsN 5 Bantul (yang saat itu masih bernama MTsN
Pundong) 1 Oktober 1994, Sutanto sempat tak percaya, pasalnya sejak awal
dirinya wiyata bhakti menjadi guru di MAN Gandekan Bantul, SMA Berbudi
Yogyakarta dan SMA Tri Praja Bhakti Bambanglipuro yang semuanya setingkat SMA.
Waktu itu Kepala MAN Gandekan meminta Sutanto
agar mengajar di MAN Gandekan saja, namun rupanya pihak MTsN tidak
mengabulkan. Akhirnya Sutanto menjalankan tugas di Pundong yang berjarak 6,5 km
dari rumahnya di Celep RT 07 Srigading
Sanden Bantul.
Merasakan
Manfaat Pramuka
Saat mulai bekerja di Pundong usianya baru 26 tahun,
masih penuh semangat, pengalaman sebagai aktivis Pramuka memberikan banyak
manfaat dalam melaksanakan pengabdiannya sebagai Guru sekaligus diserahi sebagai
Pembina Pramuka. Tidak mengherankan, karena Sutanto mulai mengenal Pramuka
semenjak tahun 1981 saat masih duduk di bangku SMP Bambanglipuro, karena
kakaknya langsung sebagai Pembina Pramuka. Pendidikan Pramukanya semakin matang
saat Sutanto melanjutkan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Bantul 1984.
Di sekolah ini dirinya menempuh jenjang Penegak Bantara, dan mengikuti Kursus
Mahir Dasar (KMD) sebagai bekal membina. Sejak 1985 Sutanto muda membina
Pramuka Penggalang di jenjang SD maupun SMP. Berawal dari seringnya mengikuti
kegiatan Pramuka di tingkat Kwarcab Bantul, Sutanto direkrut menjadi anggota
Dewan Kerja Cabang (DKC) Kwarcab Bantul periode 1984-1987, Periode 1987-1990
sebagai Bendahara dan Periode 1990-1992 sebagai Ketua. Di tahun 1987 Sutanto
mendapat kesempatan menjadi duta Kwarda XII DIY sebagai peserta Perkemahan
Besar Tingkat Penegak Pandega yaitu Raimuna Nasional di Cibubur Jakarta Timur
selama 15 hari. Untuk bisa mengikuti kegiatan ini harus melewati seleksi Raimuna
Cabang di tingkat Kabupaten, Raimuna Daerah di tingkat DIY. Di even Nasional
ini banyak memberikan pengalaman berjumpa dengan Pramuka dari Sabang sampai
Merauke. Selanjutnya Sutanto berkiprah sebagai Andalan Kwaran Pundong 2003-2006
dan 2017-2021, Andalan Kwarcab Bantul 1993-1996, 2000-2005, 2005-2010 dan
2015-2020, Pelatih Kwarcab Bantul sejak 2015. Untuk meningkatkan kemampuan pada
tahun 1991 Sutanto mengikuti Kursus Pembina tingkat Mahir Lanjut (KML) jurusan
Penggalang di Buper Babarsari Sleman, pada tahun 2014 mengikuti Kursus Pelatih
Dasar (KPD) Tingkat Nasional di Balong Bendo Sidoarjo Jawa Timur.
Catur,
Hobi yang Membawa Hoki
Sejak
usia 5 tahun Sutanto yang masih TK mulai dikenalkan olahraga otak oleh “sang
ayah” Dwidjo Sumarto, seorang guru SD yang hobi main catur. Setelah diajari
dasar-dasar , Sutanto kecil ditandingkan dengan orang dewasa. Dari cara tersebut
Sutanto mulai terbiasa bertanding. Mulai kelas 1 SD (1975) sampai kelas 5 (1979)
Sutanto menjadi wakil Bantul di tingkat DIY dalam Pekan aneka Kegiatan dan
Ketrampilan Murid (PAKKM). Namun sayang kegemarannya bermain catur sempat
terhenti sampai tahun 1987.
Barulah
ketika masuk bangku kuliah di Program Studi Seni Musik IKIP Yogyakarta, Sutanto
mulai bermain catur lagi, hal ini disebabkan di tingkat Fakultas ada
pertandingan catur antar jurusan. Sambil kuliah kerapkali Sutanto membawa 1 set
papan catur, dosen Seni Musik,Seni Rupa banyak yang penasaran menjajal
kemampuannya. Sehingga di Kampus Sutanto lebih dikenal oleh dosen bukan karena
piawai memainkan alat musik namun karena kemampuannya dalam bidang catur. Ketua
Program Studi Seni Musik yang orang Batak kebetulan juga hobi catur, sampai
hapal dengan dirinya.
Mulai
tahun 1989 Sutanto mulai aktif mengikuti turnamen di Kabupaten Bantul. Debutnya
mulai diperhitungkan, tahun 1991 berhasil menjadi Juara I Turnamen Catur Bupati
Bantul Cup, Juara I Catur Bantul Cup tahun 2000, Juara I Catur HAB Kemenag
tahun 1996, 2000, 2001,2002, 2006, Juara I Catur dalam rangka Dies Natalis UNY
tahun 2003, Juara III Catur Porda 2007, Juara I Catur Cepat Porprida DIY 2014, Juara I
Beregu Klasik Porprida DIY 2014, Juara II Seleksi Porda Kabupaten Bantul 2014,
, Juara III Catur Porda 2015, Juara III Catur Porda 2017, Juara I Catur Kilat
HUT Korpri 46 Tahun 2017 se Bantul, Juara I Catur Cepat HUT Korpri 46 Tahun
2017 se Bantul, Juara I Catur Standar HUT Korpri 46 Tahun 2017 se Bantul
Catur
telah membawa Sutanto merasakan Gratis Naik Pesawat Terbang saat menjadi Tim
Catur DIY dalam rangka Porseni PGRI Tingkat Nasional di Samarinda tahun 2012,
selang setahun kemudian mewakili DIY
menjadi Tim Catur Por Korpri Tingkat Nasional di Manado 2013, dan tahun
2017 menjadi Tim Catur DIY pada Por Korpri
Tingkat Nasional di Yogyakarta.
Musik,
Hobi yang mengantarnya Masuk Kemenag
Dari
Sumartono kakaknya, Sutanto mulai suka menyanyi dan bermain Gitar kelas 5 SD.
Grup Nasyid yang menjadi acara pengajian dalam berbagai peringatan Hari Besar
Agama Islam menjadi ajang latihannya bermusik. Saat masuk SMPN Bambanglipuro
Sutanto semakin matang bermain gitar bersama komunitas teman sekolahnya dan
menjadi pengisi acara berbagai kegiatan di sekolahnya, bahkan Sutanto sudah
berhasil menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Bapak Nugroho”, lagu yang
berisikan pujian kepada Mendikbud Nugroho Noto Susanto. Mengikuti jejak
kakaknya Sutanto masuk SPGN Bantul dan mendapatkan komunitas musik meski masih
berkutat sebagai pengisi acara sekolah. Musik menjadi pilihannya ketika lulus
SPG tahun 1987, Sutanto mencoba peruntungan mendaftar IKIP Yogyakarta program
studi Seni Musik. Selain ujian tulis sebagaimana calon mahasiswa lainnya, ada
tes menulis notasi musik dan bermain salahsatu alat musik. Dengan berbekal
Gitarnya yang mungkin belum standar kualitasnya, membawa Sutanto diterima masuk
menjadi Mahasiswa Program Studi Seni Musik. Dibanding teman-temannya Sutanto
tidak begitu menonjol musikalitasnya, namun dia dapat menyelesaikan kuliah
dalam waktu 4,5 tahun dan lulus pertamakali pada Mei 1992. Semenjak tahun
pertama kuliah, Sutanto sudah menjadi guru honorer di SMA Dwijaya Karen sambil
membina Pramuka di berbagai sekolah, tahun 1991 Sutanto menjadi guru honorer di
3 sekolah, Senin-Selasa di MAN Gandekan Bantul, Rabu-Kamis di SMA Berbudi
Yogyakarta dan Jum`at-Sabtu di SMA Tri Praja Bhakti Bambanglipuro.
Ketika
mengajar di MAN Gandekan itulah Sutanto mulai tahu tentang penerimaan
pegawai/guru di lingkungan Kemenag yang waktu itu masih bernama Depag.
Sayangnya pada Agustus 1992 informasi penerimaan sudah terlambat diketahuinya
sehingga otomatis belum bisa mendaftar. Agar tak terlambat mendapat informasi
bekerjasama dengan rekannya Sutanto mulai memantau penerimaan CPNS Kemenag
mulai awal 1993. Penantiannya tak sia-sia karena, Agustus 1993 dibuka
pendafataran CPNS baik ijazah SMA/MA maupun sarjana. Herannya untuk kualifikasi
Sarjana tidak menyebut jurusan yang dibutuhkan, dan Sutanto mendaftar. Setelah
melewati beberapa tahap mulai seleksi tertulis, lesan, psikotes akhirnya
Sutanto dinyatakan diterima, namun untuk SK penempatan harus menunggu sekitar
satu tahun, yaitu per 1 Oktober 1994.
Guru
yang Jurnalis
Di sela-sela kesibukannya mengajar Sutanto memiliki
hobi menulis. Yang menjadikan Sutanto termotivasi bersentuhan dengan dunia
jurnalistik, berawal dari datangnya seorang wartawan yang menemuinya pada tahun
1990. Saat itu Sutanto masih kuliah di
IKIP Yogyakarta dan aktif menjadi pengurus Pramuka di Dewan Kerja Cabang (DKC)
Kabupaten Bantul. Wartawan tersebut mewawancarai Sutanto tentang data diri,
organisasi dan kuliah. Beberapa hari kemudian profilnya muncul di koran dan
banyak mendapat respon dari beberapa teman. Bahkan ada seorang dara aktivis
pramuka dari luar Kabupaten Bantul
yang menemui Sutanto hanya untuk berkenalan, gara-gara profilnya dimuat di koran.
Ternyata sungguh dahsyat pengaruh media
cetak. Dari sinilah terpompa semangat
untuk mencoba menulis sendiri dan bukan hanya diwawancarai saja.
Sejak tahun 1985 saaat masih duduk di bangku Sekolah
Pendidikan Guru (SPG) Sutanto menjadi redaktur majalah sekolah “Media Siswa”.
Majalah bulanan yang hanya dikonsumsi secara
intern tersebut selalu ditunggu kehadirannya oleh warga sekolah. Sebagai
redaktur yang sekaligus ikut mengisi rubrik seperti puisi, cerita dan artikel
lain selalu tertantang untuk menyajikan sesuatu yang menarik. Saat sekolah di
SPG itulah secara iseng-iseng Sutanto menulis pantun dan dimuat di koran Minggu
Pagi dalam rubrik “Pantun Ngeyel” dan mendapat honor. Perasaan bahagia tak terhingga
karena pantun yang Sutanto buat bisa dimuat dan
dibaca banyak orang serta masih
mendapat honor.
Menulis berita
baru Sutanto mulai sekitar tahun 2007 ketika sudah bertugas menjadi guru di
MTsN Pundong Bantul. Awalnya saat madrasah mengadakan kegiatan lomba fashion
busana muslim/muslimah antar SD/MI se Bantul menjelang penerimaan siswa baru,
kegiatan tersebut dimuat di Kedaulatan Rakyat.
Penasaran juga rasanya kok bisa dimuat, Sutanto mencoba
menelusuri, ternyata ada salahsatu orangtua/wali peserta lomba yang
mengirimkan berita lewat seorang wartawan. Dari orangtua/wali tersebut Sutanto
meminta nomor HP wartawan yang memuat berita itu, menanyakan bagaimana cara
mengirim berita. Berbekal keterangan wartawan itu Sutanto membuat berita
madrasah dan dikirim melalui email. Alhamdulillah beberapa kegiatan madrasah
bisa di ekspos melalui Koran tertua di Yogyakarta ini.
Menulis berita di
koran secara intensif baru dimulai Sutanto sekitar tahun 2011, karena di tahun
2007 baru dimuat 1 kali, tahun 2009 dimuat 7 kali, tahun 2010 dimuat 2 kali, di
tahun 2011 sudah meningkat dimuat 21 kali, tahun 2012 dimuat 33 kali, tahun
2013 dimuat 24 kali. Sutanto masih belum puas untuk menulis dan terus menulis
berita di koran. Untuk tahun 2014 dan 2015 secara berturut-turut, kumpulan
kliping berita yang memuat kegiatan “Kampus Hijau” MTsN Pundong mendapat
apresiasi dari Kanwil Kemenag DIY dan
mendapatkan penghargaan“Media Award” karena menjadi madrasah yang terbanyak
dimuat di koran. Untuk tahun 2014 ada 49 berita dan tahun 2015 ada 56 berita.
Sutanto terus berusaha meningkatkan pemuatan berita di koran, maka di tahun
2016 dapat dimuat 68 berita, namun sayang
program media award tidak berlanjut lagi.
Meskipun
tak ada penghargaan, namun kesenangan menulis dan mengkliping
berita tetap dilakukan sampai sekarang, dan untuk tahun 2017 telah terkumpul 54
berita yang dimuat di koran. Pemuatan berita-berita
madrasah yang Sutanto lakukan bukan semata-mata mengejar penghargaan, namun
yang lebih penting adalah mengukuhkan eksistensi madrasah di tengah masyarakat
agar madrasah makin dikenal dan disukai. Menulis berita di koran harus
mempertimbangkan segmen masyarakat yang membaca, artinya koran
apa yang banyak dibaca perlu menjadi salahsatu pertimbangan.
Sebelum tahun 2011 Sutanto hanya menulis berita untuk koran lokal seperti
Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Harian Jogja. Ketika bulan April 2011 mulai
muncul harian baru “Tribun Jogja” mengusik jiwa Sutanto untuk mencoba menembus
Koran Gramedia Grup tersebut. Setelah Sutanto cermati kapling beritanya,
pilihan Sutanto jatuh pada “citizen journalism” yang memberikan ruang khusus
bagi pembaca untuk menuangkan ide ataupun menyampaikan laporan kegiatan.
Tulisan Sutanto
yang dimuat pertama kali pada Senin Pon 30 Mei 2011 (Tribun edisi 51/ tahun I)
dengan judul “ Pelatihan MGMPSBK Bantul”, tulisan kedua dimuat pada Rabu
Kliwon, 6 Juli 2011 dan tulisan ketiga dimuat Rabu Wage 28 September 2011.
Untuk tahun 2012 lebih giat menulis citizen journalism dan bisa dimuat sebanyak
8 kali. Tahun 2013 dimuat 1 kali, tahun 2014 dan tahun 2015 dimuat 2 kali,
tahun 2016 semangat lagi dan dapat dimuat 7 kali. Sedangkan untuk tahun 2017
sampai bulan April dimuat 3 kali. Rubrik ini ternyata banyak peminatnya, mulai
dari guru, karyawan, dosen, pengurus organisasi dan profesi lainnya, karena
memang terbukti efektif untuk menyebarluaskan informasi kegiatan.
Mulai Desember
2016 di Tribun Jogja muncul rubrik baru dengan nama Komunikarta. Pada awalnya
Sutanto tidak melirik rubrik ini, dianggapnya rubrik ini hanya mewartakan
kegiatan dusun/ desa saja. Namun lama-lama ada rasa
penasaran ingin mencoba menulis di rubrik ini. Kelebihan Komunikarta dibanding
citizen journalism adalah adanya foto berwarna yang menyertai berita yang
dimuat. Tulisan Sutanto yang pertama dimuat tentang kegiatan madrasah berjudul “Sri Umayati Jadi Pembina Upacara di
Kampus Hijau” yang dimuat pada Kamis, 2 Februari 2017, disusul berita lainnya.
Sampai dengan April 2017 tulisannya yang
bisa dimuat di Komunikarta Tribun Jogja sebanyak 9 kali meliputi : Berita MTsN
5 Bantul 3 kali, kegiatan masyarakat 2
kali, kegiatan MGMP Seni Budaya 4 kali, kegiatan olahraga catur 1 kali. Di
rubrik ini kepuasan sebagai penulis lebih
terasa karena di pojok kanan bawah tulisan dicantumkan nama dirinya selaku
penulis.
Hobi menulis yang ditekuni Sutanto
ternyata mendapat perhatian dari Kanwil Kemenag DIY,
bersama dengan beberapa guru dari madrasah lain se DIY diundang dari Kanwil dan
dijadikan kontributor resmi yogyakarta.kemenag.go.id
. Mulai
16 Mei 2016 Sutanto diberikan kewenangan untuk “tulis sendiri
upload sendiri” berita (sebelumnya kalo mengirim berita harus melalui
email Humas Kanwil Kemenag DIY). Setelah berkecimpung dalam
dunia jurnalistik, Sutanto sadar bahwa dengan menulis berita dan artikel ternyata
membuat hati menjadi bahagia. Setiap selesai menulis berita untuk koran, maka
hari-hari berikutnya adalah menanti dengan perasaan berdebar, apakah berita
yang dikirim bisa dimuat atau tidak. Setelah dimuat ada perasan lega dan rasa puas, barulah
kemudian Sutanto kumpulkan menjadi kliping dan di akhir tahun dijilid.
Dari kliping berita tersebut dapat digunakan sebagai
sumber informasi, misalnya untuk mencari nama pejabat mulai dari Kanwil Kemenag
DIY, Kemenag Bantul, Bupati, Camat, dll yang semuanya terekam di kliping,
termasuk misalnya untuk mengingat kegiatan yang pernah dilaksanakan di madrasah
apabila lupa waktu dan tempatnya akan dapat terjawab dari kliping.
Selain
mempublikasikan madrasah sendiri, Sutanto juga mewartakan kegiatan lain seperti
: Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya dan Prakarya MTs Kemenag
DIY (sebagai ketua), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya dan
Prakarya MTs Kemenag Kabupaten Bantul (sebagai wakil ketua), olah raga catur
(sebagai Sekretaris Umum Pengkab Percasi Bantul), juga kegiatan di masyarakat di
dusun maupun desanya.
Sambil berolahraga sekaligus rekreasi bersama keluarga,
Sutanto juga menyempatkan menulis tempat-tempat yang dikunjungi. Beberapa yang
dimuat di media cetak diantaranya “Coba Sensasi Selfie di Atas Bukit Berlatar
Pantai Depok” (Tribun Jogja, 16 Juni 2017), Pecinta Pantai dan Kuliner Wajib ke
Pesona Pengklin ( Tribun Jogja, 18 Juli 2017), Spot Bunga Matahari Muncul Lagi
(Harian Bernas, 22 Desember 2017).
Mulai tahun
2018, seiring perkembangan teknologi, maka sedikit demi sedikit koran cetak
mulai berkurang peminatnya dan berkalih ke media online Sutanto melakukan
terobosan dengan mengirim berita secara online, beberapa kirimannya telah
dimuat di krjogja.com, harianjogja.com, solopos.com, jatengpos.com, kumparancom.
Kelebihan media online langsung bisa dibaca secara Nasional dan bisa difoward
ke media sosial seperti instagram, facebook, twiter, WhatsApp secara langsung.
Raih
Berbagai Penghargaan
Selama 24 tahun bertugas sebagai guru, Sutanto
bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya, apabila mampu tugas yang diberikan
kepadanya akan dilaksanakan. Termasuk ketika didaulat harus mengikuti berbagai
lomba Sutanto tak menolaknya. Pada tahun 2004 dia berhasil menjadi Juara I Guru
Teladan MTs Kemenag DIY. Di tahun 2004 pula Sutanto lolos Seleksi Calon
Kepala Madrasah dan mendapatkan Sertifikat Calon Kepala Madrasah 2005. Namun
hal itu tidak secara otomatis membuatnya diberi amanah sebagai Kepala Madrasah.
Pada November 20015 Sutanto mendapatkan Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya
Satya XX tahun yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Tahun 2008 saat ada
sertifikasi Sutanto lulus Sertifikasi melalui program Porto Folio dengan nilai
lebih dari seribu, tak usah melalui PLPG. Pada tahun 2017 Sutanto didaulat
mewakili madrasahnya mengikuti lomba ASN Berbudaya Kerja dan berhasil meraih
Juara I. Dampak dari keberhasilannya sebagai Juara ASN ternyata luarbiasa,
setelah dimuat di media online, salahsatu stasiun televisi tertarik membuat
profilnya. Dalam waktu sekitar 3 jam proses rekaman berhasil dibuat 3 angle
berita ; Guru Berprestasi, Guru Kreatif, dan Lagu Vulgar
Yang
ditayangkan Anteve dalam acara “Panorama D.I.Yogyakarta” secara berulang-ulang.
Ketertarikan
pihak stasiun Televisi tersebut diantaranya Sutanto telah berhasil mencipta
lagu dan telah direkam di studio Radio Vedac PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta
yaitu Dengan Bismillah, Mari Berkaca, Setulus Hati, Salahkah Aku, Fatamorgana,
Ajal Menjelang, Maafkan, Kampus Hijau, Ikrar Hati, Segala Karunia, Dilanda
Bencana, Mampu, Semesta, Terus Maju. Lagu-lagu yang diciptakannya tersebut
bertemakan religi, alam, promosi madrasah. Selain itu Sutanto sering dimintai
tolong untuk mencipta lagu untuk sekolah/organisasi sosial seperti Mars TK
Pembina Bonggalan, Mars PKBM Mandiri Karen, Mars Jambore Daerah DIY. Sedangkan
beberapa buah lagu belum direkam seperti Bagai Mimpi Saja, Buah Hati 1, Buah
Hati2, Buah Hati 3, Mars Matsamaba.
Kesibukan
di luar Mengajar
`Disela-sela kesibukannya mengajar, Sutanto
aktif menjadi Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) MTs Seni Budaya dan Keterampilan
Kemenag D.I.Yogyakarta mulai Januari 2012. Sejarah terbentuknya MGMP Seni
Budaya & Prakarya MTs Kemenag DIY yang pada awal berdirinya bernama MGMP
Seni Budaya & Ketrampilan MTs
Kemenag DIY tak bisa dilepaskan dari keberadaan MGMP Seni Budaya dan
Keterampilan MTs Kemenag Kabupaten Bantul yang sudah mulai aktif mulai bulan
Agustus 2010. Anggota MGMP ini terdiri dari berbagai latarbelakang Kesenian
(Musik, Tari, Rupa) maupun keterampilan (kriya, boga, busana). Selama kurun
waktu Agustus 2010 sampai dengan Mei 2011 telah mengadakan berbagai macam
kegiatan seperti : pelatihan membatik dengan media kain di Wonokromo, pelatihan
gerabah di “Jumiran Keramik” Kasongan, praktek anyam bambu di Dlingo, pelatihan
lagu Nasional dan pelatihan batik kayu. Pada Tahun Pelajaran 2011/2012 tepatnya
Oktober 2011 mulai kegiatan dengan menggelar diklat penyusunan silabus &
RPP, pelatihan angklung, pelatihan kaligrafi, lesson study, pelatihan batik,
dan pelatihan band.
Bertempat di MTsN Piyungan Bantul,
pada tanggal 12 Januari 2012 MGMP Seni Budaya dan Keterampilan MTs Kemenag DIY
Masa Bhakti 2012-2014 secara resmi terbentuk melalui musyawarah mufakat dan
Sutanto dipercaya sebagai Ketua. Bersama dengan pengurus telah berhasil membuat
kegiatan yang menunjang pengembangan kompetensi. Dari MGMP inilah Sutanto
menjalin kerjasama dengan Kemenag DIY untuk membuat Surat Keputusan
Kepengurusan sebagai paying hokum. Sutanto juga menjalin kerjasama dengan Drs.
Edih Supardi, M.Pd (widyaiswara PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta) dan Ketua Asosiasi Pengembang Teknologi Pembelajaran Indonesia
(APTPI) wilayah DIY- Jateng , Akhir Lusono, S.Sn, MM yang juga Direktur Radio
Vedac PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta. Dari kedua orang inilah Sutanto
bersama bisa menggelar berbagai kegiatan seperti Seminar, FGD, Workshop, Diklat
dan sebagainya dengan berbagai kemudahan bagi dari segi fasilitas, pendanaan
dan pencarian narasumber. Beberapa kegiatan Sutanto turut menjadi narasumber,
diantaranya: Seminar Pendidikan Seni Budaya di Era Digital
2014, Training on The Job Pemanfaatan TIK
tingkat DIY.
Dalam
olahraga catur Sutanto tak hanya aktif sebagai atlet, namun semenjak 1990
menggawangi lahirnya Klub Catur Kuda Kencana di Srigading Sanden, sedangkan di
tingkat Kabupaten diberi amanah sebagai Sekretaris Umum Pengkab Percasi Bantul
periode 2000-2004, 2004-2008, 2008-2012, 2012-2016, 2017-2021. Sebagai
Sekretaris Umum tentu saja merupakan motor penggerak organisasi, melewati
pergantian Ketua Umum dalam beberapa periode yang umumnya dipegang pejabat
Pemkab Bantul, dirinya sekaligus belajar menghadapai berbagai karakter.
Berbagai kegiatan rutin pembuatan RAB, pelaksanaan aneka kegiatan sampai dengan
LPJ tak pelak pula menyita sebagian waktunya, namun karena sudah didasari rasa
suka maka dilakoninya dengan enjoy.
Dalam
suatu pertandingan catur mutlak membutuhkan eorang wasit yang bertugas memimpin
pertandingan, dikarenakan masih minimnya wasit catur di DIY, Sutanto dikirim
mengikuti kursus wasit catur di Pusdiklat Kemdikbud Jakarta tahun 2016 dan
berhasil memperoleh gelar Wasit Nasional Pratama. Otomatis dengan gelar baru
yang disandangnya tersebut Sutanto acapkali ditugasi menjadi pemimpin
pertandingan teruatama kejuaraan catur yang digelar di tingkat Kabupaten
Bantul.
Sedangkan
di masyarakat, Sutanto turut berkiprah pula sebagai Takmir Masjid di dusunnya sejak
1996 hingga sekarang juga sebagai khotib. Ketua RT 07 Srigading Sanden Bantul juga
disandangnya sejak tahun 2003, Dewan Sekolah SD Bonggalan Srigading Sanden
Bantul, sejak 2003 hingga sekarang dan yang terakhir diminta pihak Desa
Srigading Sanden menjadi Sekretaris LPMD.
No comments:
Post a Comment