Ketua
Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul Hj. Emi Masruroh, S.Pd menyambut baik akan
terbitnya buku kisah nyata “Pak RT menjadi OTG” karya guru MTsN 3 Bantul, Drs.
Sutanto.
Membaca
buku karya Sutanto tentang kisah hidup yang dialami selama terpapar Covid-19
mengingatkan saya dalam kisah yang sama. Menjadi orang yang terpapar virus ini
tentu saja tidak pernah diinginkan oleh siapapun, sehingga upaya menjaga protokol
kesehatan senantiasa selalu dilakukan. Walaupun begitu, ketika Allah
menghendaki diri kita terpapar maka tidak dapat menghindar sedikit pun. Begitu
pula yang jika tidak dikehendaki terpapar, sekalipun kontak erat dengan pasien
Covid-19 maka tetap sehat seperti yang dialami oleh istri Sutanto.
Hal
itu dikatakan, Jumat siang (25/6/2021) di Rumah Dinas Bupati Bantul, Trirenggo
Bantul.
Pemerintah Kabupaten Bantul telah berupaya dengan
berbagai cara agar penyebaran virus tersebut tidak merajalela, akan tetapi
keberhasilannya tergantung pada seberapa taat warganya memenuhi protokol
kesehatan. Selain upaya antisipatif, bagi warga yang terpapar pun senantiasa
diperlakukan dengan baik agar kembali menjadi sehat. Di antaranya dengan
menyediakan beberapa shelter dan satu RS Lapangan Khusus Covid bagi warga yang
terpapar, selain beberapa RS rujukan covid lainnya.
Ketika saya “menyambangi” beberapa shelter dan RSLKC
tersebut, sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul sempat bertemu
dengan Drs. Sutanto dalam keadaan sehat secara fisik di shelter Niten. Teman
saya berangkat haji pada tahun 2018 ini rupanya menjadi pasien covid dengan
status OTG. Beruntung seluruh elemen masyarakat, keluarga, dan petugas yang
berada di sekitar tempat tinggal beliau termasuk kondusif, sehingga memberikan
rasa nyaman kepadanya dan keluarga. Tidak sedikit orang yang terpapar covid
justru dikucilkan oleh tetangganya, sehingga membuat suasana hatinya semakin
“menciut” dan memperlama penyembuhannya.
“Kepada para pembaca, semoga kisah Drs. Sutanto ini
dapat menginspirasi untuk selalu menjaga protokol kesehatan, dan “supported”
kepada orang-orang di sekitar agar tercipta suasana yang menyenangkan sehingga
menjadi salah satu faktor pendukung percepatan sembuhnya penderita covid.
Sapalah para penderita walau dengan sapaan sederhana melalui media sosial,
tetapi jangan mengintimidasi. Doakan agar lekas sembuh tanpa menggurui, karena
psikis penderita covid rata-rata cukup sensitive,” pungkas Emi.
Sutanto menambahkan sebagian orang enggan mengungkapkan kisahnya saat terpapar
Covid-19, namun dirinya justru merasa terpanggil untuk berbagi kisah saat
dinyatakan positif terpapar virus yang sudah menyebar ke berbagai belahan
dunia.
“Saya hanya ingin menunjukkan kepada masyarakat luas,
bahwa tidak semestinya orang yang terpapar Covid dijauhi apalagi dikucilkan.
Namun hendaknya diperlakukan secara wajar dan manusiawi. Sesungguhnya virus ini
bukanlah aib, sehingga tidak harus ditakuti secara berlebihan, namun tetap
memperhatikan protokol Kesehatan,” tandasnya.
Buku dengan nomor ISBN 978-623-275-868-1
ini merupakan kisah nyata dari Sutanto
yang terpapar Covid-19 pada Maret 2021 lalu.
Mulai awal diperiksa, dinyatakan positif, dan akhirnya masuk shelter. Lewat
buku ini penulis ingin berbagi pengalaman saat bersosialisasi dengan sesama
penderita covid, termasuk berbagai macam keadaan yang dialami penderita covid.
Ada yang tak bisa membau, tidak bisa merasakan pahit, manis maupun asin, ada
yang kakinya pegal-pegal, batuk pilek, namun ada pula orang tanpa gejala (OTG) yang
tidak merasakan sakit selama dinyatakan positif.




No comments:
Post a Comment