Monday, August 23, 2021

Sakitnya Sang Ibu Menjadikannya Pemijat Ternama

 

Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Allah SWT, manusia hanyalah insan lemah tanpa daya, hanya bisa melakoni layaknya sebuah wayang. Suatu cobaan yang menimpa seseorang terkadang bisa diambil hikmah dibalik peristiwa tersebut. Seperti yang terjadi pada Kalbudiyanto atau biasa dipanggil Pak Budi yang mengawali profesi sebagai pemijat karena ibunya menderita sakit.

Pada tahun 2005 Sang Ibu sakit komplikasi (stroke, diabetes, darah tinggi), menjalani opname selama 45 hari di rumah sakit namun tidak kunjung pulih kesehatannya. Sang Ibu dibawa pulang, dirawat sendiri sambil dicarikan pengobatan alternatif. Namun sampai menghabiskan banyak biaya tak ada hasilnya.

            Melihat keaadan itu timbul keinginan untuk belajar pijat dengan membaca buku, dipraktikkan untuk memijat ibunya sendiri. Budi heran, ternyata usahanya membuahkan hasil, meski belum begitu bagus. Sedikit demi sedikit kesehatan ibunya semakin membaik. Setelah melihat perkembangan dari pijatan yang dilakukan, Budi yang juga menderita sakit sampai ditangani 6 dokter tak kunjung sembuh tersebut, bersemangat semakin mendalami pijat refleksi sekaligus pijat akupresur.   

Menurutnya, pijat refleksi lebih mudah dipelajari karena hanya menghafalkan titik di kaki yang jumlahnya tidak banyak. Sedangkan akupresur itu pengobatan dengan berdasar titik-titik yang jumlahnya ribuan titik syaraf dalam tubuh manusia. Setiap hari dia menghafalkan 3 titik. Kerja kerasnya belajar pijat tanpa guru ini membuahkan hasil, dan mulai 2010 mempraktikkan ilmu yang dikuasai untuk menolong sesama dari rumah ke rumah, artinya dia belum buka praktik hanya menerima panggilan kalau ada yang butuh bantuan.

Setelah mulai banyak pelanggan, tahun 2013 lelaki yang sehari-harinya sebagai pendidik di SMKN 1 Bantul ini memberanikan diri buka praktik di rumah, di sela-sela kesibukannya mengajar. Rata-rata dia menangani 5-7 pasien perhari, dengan durasi pemijatan 45-60 menit tergantung keluhan dan jenis penyakit.

Pasien yang sembuh dengan perantaaan pijatannya paling banyak adalah penyakit migrain, vertigo dan asam lambung. Ketiga penyakit tersebut bisa dibilang adalah  spesialisasinya, artinya dia sudah tidak terlalu lama menemukan titik-titik pusat kesembuhan. Kalau penyakit lain harus mempelajari beberapa saat untuk bisa menemukan titik-titik yang tepat untuk sembuh, seperti: jantung, ginjal, asam urat, maupun syaraf kejepit.

Penyakit satu dengan yang lain tentu saja berbeda penanganannya. Ada beberapa kategori penyakit, pertama kelompok syaraf kejepit, penyempitan syaraf dan peradangan otot. Kelompok ini banyak syaraf di punggung yang mesti dideteksi. Penyakit yang berhubungan dengan aliran darah misalnya gula, kolesterol, triglisrid mesti dideteksi titik yang berhubungan dengan peredaran darah.

Untuk penyakit organ, seperti jantung, ginjal, paru-paru, pengobatannya dengan pijat dilengkapi herbal.

            Ketika ditanya tentang pantangan hari, sarjana alumni Pendidikan Seni Rupa UNY tahun 2003 mengaku tidak punya pantangan, karena baginya semua hari bagus semua. Saat ada pasien bertanya apakah penyakit yang diderita bisa disembuhkan dia tidak langsung mengiyakan, sebab kesembuhan itu mutlak kuasa Allah SWT, dia hanya menjadi lantaran kesembuhan. Selain itu faktor dari dalam, keyakinan diri pasien dan semangat untuk sembuh menjadi kunci utama.

Setiap pasien meski penyakit sama bisa saja waktu sembuhnya tidak sama, tergantung kondisi dan motivasi untuk sembuh. Sambil memijat, Budi akan bertanya kepada pasien bagaimana keluhan yang dirasakan termasuk melihat telapak tangan dan telapak kaki untuk menentukan strategi pengananannya.


 


            

No comments:

Post a Comment

Buku Solo ke-23 Segera Terbit

            Guru Seni Budaya MTsN 3 Bantul, Sutanto akan segera menerbitkan bukunya yang ke-23. Hal ini menarik perhatian  Bunda Literasi Ba...