Semua yang terjadi di
dunia ini adalah atas kehendak Allah SWT, manusia hanyalah insan lemah tanpa
daya, hanya bisa melakoni layaknya sebuah wayang. Suatu cobaan yang menimpa
seseorang terkadang bisa diambil hikmah dibalik peristiwa tersebut. Seperti yang
terjadi pada Kalbudiyanto atau biasa dipanggil Pak Budi yang mengawali profesi
sebagai pemijat karena ibunya menderita sakit.
Pada tahun 2005 Sang Ibu
sakit komplikasi (stroke, diabetes, darah tinggi), menjalani opname selama 45
hari di rumah sakit namun tidak kunjung pulih kesehatannya. Sang Ibu dibawa
pulang, dirawat sendiri sambil dicarikan pengobatan alternatif. Namun sampai
menghabiskan banyak biaya tak ada hasilnya.
Melihat keaadan itu timbul keinginan untuk belajar pijat dengan
membaca buku, dipraktikkan untuk memijat ibunya sendiri. Budi heran, ternyata
usahanya membuahkan hasil, meski belum begitu bagus. Sedikit demi sedikit kesehatan
ibunya semakin membaik. Setelah melihat perkembangan dari pijatan yang
dilakukan, Budi yang juga menderita sakit sampai ditangani 6 dokter tak kunjung
sembuh tersebut, bersemangat semakin mendalami pijat refleksi sekaligus pijat
akupresur.
Menurutnya, pijat
refleksi lebih mudah dipelajari karena hanya menghafalkan titik di kaki yang
jumlahnya tidak banyak. Sedangkan akupresur itu pengobatan dengan berdasar
titik-titik yang jumlahnya ribuan titik syaraf dalam tubuh manusia. Setiap hari
dia menghafalkan 3 titik. Kerja kerasnya belajar pijat tanpa guru ini
membuahkan hasil, dan mulai 2010 mempraktikkan ilmu yang dikuasai untuk menolong
sesama dari rumah ke rumah, artinya dia belum buka praktik hanya menerima
panggilan kalau ada yang butuh bantuan.
Setelah mulai banyak
pelanggan, tahun 2013 lelaki yang sehari-harinya sebagai pendidik di SMKN 1
Bantul ini memberanikan diri buka praktik di rumah, di sela-sela kesibukannya
mengajar. Rata-rata dia menangani 5-7 pasien perhari, dengan durasi pemijatan
45-60 menit tergantung keluhan dan jenis penyakit.
Pasien yang sembuh dengan
perantaaan pijatannya paling banyak adalah penyakit migrain, vertigo dan asam
lambung. Ketiga penyakit tersebut bisa dibilang adalah spesialisasinya, artinya dia sudah tidak
terlalu lama menemukan titik-titik pusat kesembuhan. Kalau penyakit lain harus
mempelajari beberapa saat untuk bisa menemukan titik-titik yang tepat untuk
sembuh, seperti: jantung, ginjal, asam urat, maupun syaraf kejepit.
Penyakit satu dengan
yang lain tentu saja berbeda penanganannya. Ada beberapa kategori penyakit,
pertama kelompok syaraf kejepit, penyempitan syaraf dan peradangan otot.
Kelompok ini banyak syaraf di punggung yang mesti dideteksi. Penyakit yang berhubungan
dengan aliran darah misalnya gula, kolesterol, triglisrid mesti dideteksi titik
yang berhubungan dengan peredaran darah.
Untuk penyakit organ,
seperti jantung, ginjal, paru-paru, pengobatannya dengan pijat dilengkapi herbal.
Ketika ditanya tentang pantangan hari, sarjana alumni Pendidikan
Seni Rupa UNY tahun 2003 mengaku tidak punya pantangan, karena baginya semua
hari bagus semua. Saat ada pasien bertanya apakah penyakit yang diderita bisa
disembuhkan dia tidak langsung mengiyakan, sebab kesembuhan itu mutlak kuasa
Allah SWT, dia hanya menjadi lantaran kesembuhan. Selain itu faktor dari dalam,
keyakinan diri pasien dan semangat untuk sembuh menjadi kunci utama.
Setiap pasien meski penyakit sama bisa saja waktu sembuhnya tidak sama, tergantung kondisi dan motivasi untuk sembuh. Sambil memijat, Budi akan bertanya kepada pasien bagaimana keluhan yang dirasakan termasuk melihat telapak tangan dan telapak kaki untuk menentukan strategi pengananannya.



No comments:
Post a Comment