Guru MTsN 3 Bantul Ikuti
Pelatihan Jurnalistik
Guru MTsN 3
Bantul, Sutanto mendapatkan kesempatan mengikuti Pelatihan Jurnalistik yang
digelar Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Media Pengurus Wilayah Nahdlatul
Ulama (PWNU) DIY menghadirkan narasumber anggota DPD RI asal DIY, DR. H. Hilmy
Muhammad, Rois Syuriah PWNU DIY, KH. Mas`ud Masduqi, Direktur Lembaga Pengkajian
Teknologi Informasi Pelataran Mataram (LPTI PM) Yogyakarta, Husein Asyharie,S.HI,
Jurnalis SKH.Kedaulatan Rakyat, Febrianto, di aula KH. Abdurrahaman Wahid,
lantai 2 Kantor PWNU DIY, Sabtu (4/3/2023).
Ketua Penyelenggara, H. Fahmy Akbar Idries, SE., MM menjelaskan, ada 32 peserta yang mengikuti berasal dari utusan PCNU dan Badan Otonom (Banom) dibawah naungan NU. Pelatihan bertujuan agar kader NU mengenal, mengetahui dan mendalami seluk beluk jurnalistik, baik itu mengenai terbitan media (cetak maupun online) termasuk trik dan tips menulis di media massa.
DR. H. Hilmy
Muhammad atau yang akrab disapa Gus Hilmy menyampaikan terimakasih kepada BPP
Media PWNU DIY telah berhasil melaksanakan kegiatan pelatihan. Dirinya
mengharap dari pelatihan ini dapat melahirkan jurnalis baru/ kader jurnalis
yang baik terlebih menghadapi Pemilu 2024.
“Saya ingin Pemilu mendatang lebih
bersih dan beritanya berimbang. Melalui pelatihan ini semoga memunculkan kader
jurnalis NU yang mampu membuat berita yang bagus, dapat terkurangi hoaks maupun
berita yang menjelekkan dan memfitna,” harapnya.
Sedangkan Jurnalis SKH Kedaulatan Rakyat, Febrianto, S.Kom
menyampaikan definisi jurnalistik
beserta contohnya, produk jurnalistik, ketentuan membuat judul. Menurutnya
dalam membuat judul jangan lebih dari 7 kata dan dibuat yang menarik agar
membuat orang penasaran ingin membaca. Dalam
membuat berita mesti menggunakan kalimat efektif, panjang berita 5-7 alinea.
“Usahakan dalam satu kalimat satu tanda koma saja, gunakan kalimat
aktif/ melakukan. Jangan lupa gunakan kata/ kalimat yang mudah dimengerti
pembaca. Maka sebelum berita kita kirim, baca berulang-ulang dengan
memposisikan kita sebagai pembaca,” tandasnya.
Rois Syuriah PWNU DIY,
KH. Mas`ud Masduqi mengingatkan, dalam segala hal harus diniatkan ibadah,
termasuk dalam mengikuti pelatihan.
“Masyarakat banyak yang
bertanya tentang NU, baik program maupun capaiannya. Untuk itu peran jurnalis
sangat strategis agar masyarakat lebih tahu banyak informasi terkait hal itu,” kata
kyai yang kharismatik tersebut.
Direktur LPTI PM Yogyakarta, Husein
Asyharie mengupas karakteristik media sosial seperti: twiter, facebook, instagram,
tiktok, dan youtube. Twiter bersifat ekspresif, usia random, disukai untuk
perang argumen. Facebook berbasis komunitas, pengguna25-49 banyak digunakan
mencari teman. Instagram kontennya dapat viral kapanpun, usia pengguna di bawah
3 tahun.Youtube tak sepenuhnya sosial media namun banyak interaksi melalui
komen.Sedangkan tiktok auidensnya aktif setiap hari banyak digunakan usia 10-29
tahun.
“Dari medsos tersebut, yang paling
efektif untuk mengangkat sesuatu menjadi isyu nasional adalah twiter,” imbuh
Febri.


No comments:
Post a Comment